Sabtu, 20 September 2008

GLOBAL WARMING

ABSTRAK

Kata Kunci : pemanasan global, hujan asam, karbon dioksida, bencana alam.

 Sering terjadinya bencana alam adalah satunya disebabkan oleh pemanasan global dan hujan asam. Ini semua terjadi karena ulah tangan manusia sendiri yang tidak mau memperhatikan lingkungan. Pemanasan global dan berkurangnya ozon dapat menambah tekanan bagi terumbu karang yang telah mendapat tekanan yang sangat besar karena polusi. Pada umumnya pemanasan global akan berdampak pada cuaca, tinggi muka laut, pertanian, hewan dan tumbuhan serta kesehatan manusia.
 Pemanasan global cenderung memperburuk terumbu karang yang sampai sekarang terpencil atau dilindungi. Selain itu juga dapat menaikkan permukaan air lau sampai 0,8 cm per tahun sehingga puluhan pulau tak berpenghuni tenggelam karenanya. Penyebabnya adalah karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan Cloro Floro Carbon (CFC). Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global adalah pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam dan pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. 
 Pembakaran minyak fosil ini menghasilkan Carbon Dioxide (CO2), yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke angkasa ruang. Pohon-pohon dan berbagai tanaman menyerap CO2 cari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. Pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon ikut meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan penyerapan CO2, dan dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati juga meningkatkan jumlah CO2. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 % – 0,8°C akibat pemanasan global. 
 Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi. Tanpanya, planet bumi akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C, sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
 Hujan asam sangat erat hubungannya dengan pemanasan global. Jika terjadi pemanasan global, dipastikan akan terjadi juga hujan asam. Kedua fenomena ini sangat berbahaya bagi kelngsungan hidup manusia. Organ tubuh yang paling peka terhadap percemaran NOx adalah paru-paru. Apabila terkontaminasi gas NOx, paru-paru membengkak sehingga penderita sulit bernafas yang dapat mengakibatkan kematian
 Nitrat yang telah berubah menjadi nitrit dapat juga bereaksi dengan amina sekunder sehingga menghasilkan nitrosamina. Senyawa ini dapat menimbulkan kanker, mutasi dan abnormalitas. Dalam dosis tertentu, nitrosamina bahkan mampu menembus plasenta sehingga menyebabkan tumor pada janin. 
 Masalah hujan asam mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Masalahnya menjadi bertambah parah karena jumlah total SO2 yang terlepas ke udara terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah permintaan energi listrik. Walaupun sebagian besar pusat tenaga listrik batubara telah menggunakan alat pembersih endapan (presipitator) untuk membersihkan partikel-partikel kecil dari asap batubara, namun SO2 yang merupakan senyawa gas dengan bebasnya naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas.
 Di berbagai belahan dunia, dewasa ini manusia mulai sadar akan perlunya menyelamatkan lingkungan. Berbagai macan usaha telah dilakukan seperti : membatasi emisi CO2, penggunaan minyak bumi secara efisien, menyembunyikan karbon, pengendalian pemanasan global, membuat taman kota, dan penanaman penghijauan.
 Adanya fenomena pemanasan global ini, kehidupan masyarakat dunia akan terganggu. Oleh karena itu diharapkan semua masyarakat dunia benar-benar memperhatikan kondisi ini, kerena sangat mengancam kehidupan di muka bumi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah dengan judul “ Mengurangi Dampak Pemanasan Global Guna Mensejahterakan Kehidupan Masyarakat Dunia “ dengan baik.
Penulis juga menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada:
1. Bapak Suradji Chabir selaku kepala sekolah SMAN 2 Probolinggo yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk menulis karya ilmiah dengan baik.
2. Bapak Agus Maryono dan Ibu Sri Maryuni selaku guru Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami dalam penyelesaian karya ilmiah ini.
3. Bapak Ibu guru SMAN 2 yang telah memberi dukungan kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini dengan baik.
4. Semua pihak yang telah mampu membantu kelancaran dalam penulisan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini tidak lepas dari kekurangan, untuk perbaikan dan kesempurnaan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.









Probolinggo, 14 Februari 2008
 
 Penulis





BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Dewasa ini sering terjadi bencana alam. Hal ini menyebabkan kerusakan yang terjadi di permukaan bumi. Saat ini di kutub utara mengalami penasan global dimana cuaca selalu berubah-ubah dengan tidak teratur. Salah satu penyebab pemanasan global adalah asap kendaraan (polusi udara). Banyak sekali perubahan-perubahan yang mungkin apabila terjadi pemanasan global, diantaranya berlipat duanya karbondioksida di atmosfer, meningkatnya temperatur di wilayah tropis, pola musim yang berubah-ubah dan perubahan pada sirkulasi samudra. Faktanya, pemanasan global ternyata dapat berpengaruh terhadap terumbu karang yang tercemar dan mendapat perlakuan buruk. Meningkatnya permukaan laut juga menambah erosi pantai.
 Sekurang-kurangnya pemanasan global dan berkurangnya ozon cenderung menambah tekanan bagi terumbu karang yang telah mendapat tekanan yang sangat besar karena polusi. Selain itu, penasan global cenderung memperburuk terumbu karang yang sampai sekarang terpencil atau dilindungi. Ada beberapa tindakan untuk mencegah terjadinya penasan global, salah satunya dengan mengurangi polusi udara yang berupa asap dari kendaraan bermotor. 
Akibat pemanasan global, permukaan laut Indonesia naik 0,8 cm per tahun dan berdampak pada tenggelamnya pulau-pulau nusantara hampir satu meter dalam 15 tahun ke depan. Dampak lain dari pemanasan global adalah terjadinya pergeseran iklim dari yang seharusnya Juni 2006 sudah musim kemarau, Kalimantan dan Sumatra malah masih mengalami banjir besar dan bulan September yang seharusnya sudah dimulai musim hujan bergeser mulai November.
Data dampak pemanasan global lainnya misalnya mencairnya glasier di pegunungan Himalaya, meningkatnya frekuensi badai di Kepulauan Pasifik Selatan, pemutihan karang secara massal dan berdampak pada kematian di Great Barrier Reef Australia, berkurangnya persediaan air bersih di sungai Mekong dan lain-lain. Menurutnya, indikasi pemanasan global lain yang begitu jelas dirasakan misalnya kenaikan suhu yang ekstrem beberapa waktu belakangan ini misalnya suhu di Kalimantan yang biasanya sekitar 35 derajat Celcius naik menjadi 39 derajat Celcius. Di Sumatra yang biasanya berkisar pada 33-34 derajat naik menjadi 37 derajat, dan di Jakarta yang biasanya 32-34 naik menjadi 36 derajat Celcius. Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.
Selain itu puluhan pulau tak berpenghuni tenggelam akibat pemanasan global. Sedikitnya 23 pulau tidak berpenghuni di Indonesia tenggelam dalam 10 tahun terakhir akibat pemanasan global. dikhawatirkan akan ada pulau-pulau berpenghuni di Indonesia yang tenggelam sebagai dampak dari pemanasan global pada 2025, yang salah satu gejalanya, semakin tinggi permukaan laut.
 Penyebab dari pemanasan global ini adalah karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi.
Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
 Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana definisi dari pemanasan global ?
1.2.2 Mengapa bisa terjadi pemanasan global ?
1.2.3 Apa dampak dari pemanasan global ?
1.2.4 Bagaimana latar belakang dari hujan asam ?
1.2.5 Mengapa bisa terjadi hujan asam ?
1.2.6 Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk mencegah pemanasan global dan hujan asam ?
1.3 Tujuan Penulisan
 1.3.1 Agar pembaca dapat mengetahui tentang pemanasan global.
1.3.2 Agar pembaca dapat mengetahui proses terjadinya pemanasan global.
1.3.3 Pembaca dapat mengetahui bagaimana dampak dari pemanasan global terhadap kehidupan di dunia.
1.3.4 Pembaca dapat mengetahui tentang fenomena hujan asam.
1.3.5 Pembaca dapat mengetahui bagaimana dampak dari hujan asam terhadap kehidupan di dunia.
1.3.6 Agar pembaca dapat merubah perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan pemanasan global dan hujan asam.

1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bertambahnya pengetahuan pembaca tentang latar belakang dari pemanasan global.
1.4.2 Bertambahnya pengetahuan pembaca tentang proses terjadinya pemanasan global.
1.4.3 Bertambahnya pengetahuan pembaca tentang bagaimana dampak dari pemanasan global terhadap kehidupan di dunia.
1.4.4 Bertambahnya pengetahuan pembaca tentang fenomena hujan asam.
1.4.5 Bertambahnya pengetahuan pembaca tentang bagaimana dampak dari hujan asam terhadap kehidupan di dunia.
1.4.6 Berubahnya perilaku pembaca yang dapat menimbulkan pemanasan global dan hujan asam.



























BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pemanasan Global
 Peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 – 0,8°C. Para ilmuwan memperhitungkan bahwa suhu rata-rata bumi akan meningkat menjadi 1,4 – 5,8°C pada tahun 2100. Nilai peningkatannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai peningkatan yang pernah terjadi sebelumnya. 
2.2 Hujan Asam
 Beberapa jenis polutan, terutama oksida sulfur dan nitrogen, oleh waktu dan cahaya matahari diubah menjadi senyawa-senyawa yang bereaksi dengan air di udara dan membentuk asam. Polutan-polutan ini, yang sering disebut "hujan asam", juga mencakup salju, kabut dan uap air, serta senyawa-senyawa kering yang bereaksi di permukaan daun atau tanah. Asam-masam ini tidak hanya meracuni danau dan sungai, membunuh ikan dan binatang-binatang lain, tetapi juga mengikis logam dan cat, dan benar-benar melarutkan bangunan batu dan tugu (lihat sulfur dioksida)
2.3 Karbon Dioksida (CO2)
 Gas yang terbentuk ketika bahan bakar yang kaya akan kandungan karbon ini, seperti batu bara atau minyak, terbakar adalah pencemar udara tak berwarna dan tak berasa, dan merupakan salah satu jenis gas "rumah kaca". Disebut demikian karena gas-gas ini memerangkap panas bumi seperti jendela-jendela kaca di sebuah rumah kaca. 
2.4 Karbon Monoksida (CO)
 Ketika bahan bakar yang kaya karbon (seperti batubara dan minyak) terbakar tak sempurna, hasilnya adalah gas tak berwarna dan tak berasa yang dikenal sebagai karbon monoksida. Dalam konsentrasi tinggi karbon monoksida membunuh ribuan orang tiap tahun, sedangkan tingkat yang lebih rendah yang ditemukan di perkotaan dapat memperparah penyakit angina suatu kondisi penyakit jantung dan menimbulkan penyakit-penyakit lain. Kendaraan bermotor merupakan penyebab sekitar 80 persen karbon monoksida.
2.5 Hidrokarbon (HC)
 Walaupun ada berbagai nama untuk polutan ini, mulai dari "gas organik reaktif" sampai "senyawa organik yang mudah menguap", tetapi semua nama tersebut mengacu pada ribuan polutan yang terdapat dalam bensin yang tak terbakar, cairan pencuci kering, zat pelarut untuk industri, dan berbagai jenis kombinasi lain dari hidrogen dengan karbon. Banyak jenis hidrokarbon berbahaya secara sendiri-sendiri: benzene, suatu konstituen dari gasolin, misalnya, dapat menimbulkan leukemia. Jenis-jenis lain bereaksi dengan oksida-oksida nitrogen dalam cahaya matahari, dan menimbulkan asap kabut atau "ozon", (lihat ozon).

2.6 Timah (Pb)
 Logam bewarna kelabu keperakan ini sangat dikenal oleh setiap orang yang pernah memasang pemberat tali pancing. Logam ini sangat beracun dalam setiap bentuknya dan sama sekali tidak memiliki nilai gizi apapun. Beberapa pakar yakin bahwa penggunaan timah secara ekstensif sebagai bahan pengawet anggur (minuman) di zaman Romawi Kuno mengakibatkan kemunduran mental yang meluas, dan merupakan salah satu faktor penyebab keruntuhan kerajaan tersebut. Di samping penggunaannya dalam tempat-tempat seperti peleburan bijih, pencemaran timah modern paling sering diakibatkan oleh penggunaannya sebagai "Ethyl" atau zat aditif gasolin lain.
2.7 Nitrogen Dioksida (NO2)
 Jika batu bara, minyak, gas bahkan korek api terbakar di atmosfer, panasnya memicu suatu reaksi kimia yang menyebabkan nitrogen dan oksigen yang ada bergabung satu sama lain, dan membentuk berbagai populan coklat kemerahan yang disebut oksida-oksida nitrogen. Walaupun beberapa jenis oksida nitrogen ditimbulkan oleh nitrogen di dalam bahan bakar itu sendiri, namun sebagian besar bersifat "termal". Gas-gas ini menyebabkan kerusakan saluran pernapasan, terutama pada anak-anak. Oksida nitrogen juga berubah menjadi partikel-partikel nitrat teramat kecil yang dapat mencapai bagian terdalam paru-paru. Jika tercampur dengan air, baik di udara maupun di paru-paru. Nitrat-nitrat ini membentuk azam (lihat juga hujan asam di partikulat). 
2.8 Ozon (O3)
 Oksigen dapat ditemukan dalam dua bentuk, dan ozon adalah salah satunya. Senyawa oksigen yang melestarikan kehidupan yang paling lazim ditemukan adalah molekul dwi-atom yang menyusun kurang lebih 20 persen udara sekitar. Namun di lapisan stratosfer tinggi, suatu lapisan senyawa oksigen tri-atom, ozon, menghambat radiasi ledakan termonuklir matahari yang mengalir menuju ke bumi. Ozon juga ditemukan dekat permukaan tanah, sebagian karena reaksi antara dua polutan yang umum, yaitu oksida nitrogen dan hidrokarbon. Sebagai polutan udara yang sangat berbahaya, ozon merupakan oksidan yang sangat kuat sehingga digunakan di banyak kota (misalnya Los Angeles, California dan Zurich, Swis) untuk mendisinfektasi pasokan air minum. Kumpulan polutan udara yang dijumpai di banyak kota ini sering disebut secara kolektif (dan salah) sebagai ozon, karena zat itulah yang paling dominan dan paling mudah diukur. 
2.9 Benda Partikulat (PM)
 Asap dan jelaga disebut benda partikulat, tetapi bentuk yang paling berbahaya dari benda padat ini adalah partikel-partikel amat kecil dan halus yang dapat menembus ke dalam paru-paru yang hanya dilindungi oleh dinding tipis setebal molekul. Sering disebut sebagai PM 10 karena benda partikulat tersebut lebih kecil daripada 10 mikron, kebanyakan partikel halus itu berasal dari senyawa sulfur dan nitrogen yang dalam selang waktu beberapa jam atau beberapa hari berubah dari gas menjadi padat.
2.10 Sulfur Dioksida (SO2)
 Zat ini terbentuk ketika sulfur bubuk bewarna kuning keemasan yang terdapat di batubara dan minyak terbakar. Sulfur dioksida adalah gas tak terlihat yang berbau amat tajam dan menyerang sistem pernafasan manusia, serta dapat membunuh penderita asma. Setelah berjam-jam atau berhari-hari tercampur di udara, sulfur dioksida ini membentuk partikel amat halus yang disebut sulfat, yang dapat menembus bagian terdalam dari paru-paru. Sulfat kemudian bereaksi dengan air di awan atau di dalam paru-paru untuk membentuk asam belerang, yang sering disebut hujan asam.
2.11 Uap Air
 Gas rumah kaca yang timbul secara alami dan bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari efek rumah kaca.

























 
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Metode Referensi
 Penulis menggunakan metode referensi dalam penyelesaian penulisan karya ilmiah ini dengan tujuan untuk mempermudah penulis dan menambah wawasan penulis sendiri tentang pemanasan global.
3.2 Metode Surfing
 Penulis menggunakan metode surfing guna melengkapi informasi-informasi yang telah diperoleh dari metode referensi.




























BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Definisi Pemanasan Global
  Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Sejak akhir abad 18 suhu rata-rata global bumi telah meningkat sekitar 0,4 – 0,8°C. Para ilmuwan memperhitungkan bahwa suhu rata-rata bumi akan meningkat menjadi 1,4 – 5,8°C pada tahun 2100. Nilai peningkatannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai peningkatan yang pernah terjadi sebelumnya. 
  Para ahli mengkawatirkan bahwa kehidupan manusia dan ekosistem alam tidak akan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang sangat cepat. Suatu ekosistem adalah terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik di wilayah tertentu. Pemanasan global dapat menyebabkan banyak kerusakan.
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global termasuk Indonesia yang terjadi pada kisaran 1,5-40 Celcius pada akhir abad 21.
4.2 Penyebab Pemanasan Global
 Para ilmuwan mulai menyelidiki pemanasan global yang terjadi sejak akhir abad 18. Sebagian besar ahli berkesimpulan bahwa kegiatan manusialah yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global yang seringkali dikenal dengan efek rumahkaca. Efek rumah kaca memanaskan bumi melalui suatu proses yang kompleks yang berhubungan dengan sinar matahari, gas, dan partikel-partikel yang ada di atmosfer. Gas-gas yang menahan panas di atmosfer disebut gas rumah kaca.
 Kegiatan manusia yang menimbulkan pemanasan global adalah pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam dan pembukaan lahan. Sebagian besar pembakaran berasal dari asap mobil, pabrik, dan pembangkit tenaga listrik. Pembakaran minyak fosil ini menghasilkan carbon dioxide (CO2), yakni gas rumah kaca yang menghambat radiasi panas ke angkasa ruang. Pohon-pohon dan berbagai tanaman menyerap CO2 cari udara selama proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan. Pembukaan lahan dengan menebangi pohon-pohon ikut meningkatkan jumlah CO2 karena menurunkan penyerapan CO2, dan dekomposisi dari tumbuhan yang telah mati juga meningkatkan jumlah CO2.
  Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
  Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
  Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960 yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950 
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis. 
 4. 3 Dampak Pemanasan global  
 Akibat pemanasan global, permukaan laut Indonesia naik 0,8 cm per tahun dan berdampak pada tenggelamnya pulau-pulau nusantara hampir satu meter dalam 15 tahun ke depan. Demikian Deputi Menteri Lingkungan Hidup bidang Konservasi SDA dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnerliyati Hilman di Jakarta. Dampak lain dari pemanasan global adalah terjadinya pergeseran iklim dari yang seharusnya Juni 2006 sudah musim kemarau, Kalimantan dan Sumatra malah masih mengalami banjir besar dan bulan September yang seharusnya sudah dimulai musim hujan bergeser mulai November.
 Dampak lain dari pemanasan global adalah terjadinya pergeseran iklim dari yang seharusnya Juni 2006 sudah musim kemarau, Kalimantan dan Sumatra malah masih mengalami banjir besar dan bulan September yang seharusnya sudah dimulai musim hujan bergeser mulai November
 Data dampak pemanasan global lainnya misalnya mencairnya glasier di pegunungan Himalaya, meningkatnya frekuensi badai di Kepulauan Pasifik Selatan, pemutihan karang secara massal dan berdampak pada kematian di Great Barrier Reef Australia, berkurangnya persediaan air bersih di sungai Mekong dan lain-lain.Menurutnya, indikasi pemanasan global lain yang begitu jelas dirasakan misalnya kenaikan suhu yang ekstrem beberapa waktu belakangan ini misalnya suhu di Kalimantan yang biasanya sekitar 35 derajat Celcius naik menjadi 39 derajat Celcius.Di Sumatra, tambahnya, yang biasanya berkisar pada 33-34 derajat naik menjadi 37 derajat, dan di Jakarta yang biasanya 32-34 naik menjadi 36 derajat Celcius.
 Dampak pemanasan global jika dilihat dari berbagai segi antara lain :
 a) Cuaca
  Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
  Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). 
  Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
 b) Tinggi Muka Laut
  Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
  Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
 c) Pertanian
  Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
 d) Hewan dan tumbuhan
  Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
 e) Kesehatan manusia
  Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
  Laporan tersebut menyebut manusia sebagai biang utama pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961.Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah. Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat.Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.
 Jenewa – Angin topan dan badai bakal sering menyapu dengan kekuatan yang dukup besar. Inilah bagian dari bencana alam yang terjadi akibat pemanasan global. Hal itu disampaikan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pada Rabu (7/2/2007). Dengan peringatan ini, PBB berharap ada langkah-langkah persiapan dari negara-negara di Internasional Strategy for Disaster Reduction (ISDR) PBB menginformasikan angin topan dapat meningkatkan temperatur samudra. Dan di saat bersamaan akan mengurangi curah hujan atau salju, sehingga membuat udara terasa lebih panas. Utamanya kondisi ini akan dirasakan di Afrika.
 Karena itu, ISDR mengimbau pemerintah negara-negara dunia agar mempercepat implementasi Kerangka Kerja Hyogo 2005. Hal ini penting untuk mengurangi risiko bencana akibat iklim. Kerangka Kerja Hyogo adalah rencana 10 tahun yang disepakati 168 negara di Kobe, Hyogo, Jepang pada 2005. Kegiatan ini utamanya untuk mencegah banjir, kekeringan, dan badai akibat cuaca ekstrem.
4.4 Definisi Hujan Asam
 Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
 Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan
 Organ tubuh yang paling peka terhadap percemaran NO2 adalah paru-paru. Apabila terkontaminasi gas NO2, paru-paru membengkak sehingga penderita sulit bernafas yang dapat mengakibatkan kematian. Kadar gas NO yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada sistim saraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan ini terus berlanjut dapat menyebabkan kelumpuhan.
 Nitrat yang telah berubah menjadi nitrit dapat juga bereaksi dengan amina sekunder sehingga menghasilkan nitrosamina. Senyawa ini dapat menimbulkan kanker, mutasi dan abnormalitas. Dalam dosis tertentu, nitrosamina bahkan mampu menembus plasenta sehingga menyebabkan tumor pada janin. Dosis 50 ppm (bagian per sejuta) dalam makanan yang diberikan pada binatang percobaan (tikus) selama 20-40 minggu menyebabkan munculnya tumor ganas pada hati, sedang dosis 20-40 ppm menyebabkan tumor ganas pada ginyal. Oleh sebab itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan beberapa negara telah menetapkan standar kualitas air yang boleh dikonsumsi oleh manusia. Standar tertinggi kandungan nitratnya adalah 10 ppm nitrat (10 mg per liter air). 
 Masalah energi berkaitan sangat erat dengan masalah kehidupan di muka planet bumi ini. Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia telah mencatat bahwa pertumbuhan penduduk dan perkembangan peradaban mengakibatkan meningkatnya permintaan energi. Sudah sejak berabad-abad lampau manusia menggunakan batubara sebagai mineral yang dapat dibakar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. 
 Sisa-sisa pengapian dengan batubara telah dirunut sampai ke masa pra-sejarah. Manusia primitif di masa lampau mencari batubara untuk membuat tungku perapian. Batubara sudah ditambang di Tiongkok dan Yunani sejak berabad-abad Sebelum Masehi. Sedang di Jerman, batubara sudah mulai ditambang sejak lebih dari 1000 tahun lalu, di Inggris ditambang pada abad ke-13. Para pandai besi pada saat itu memanfaatkan batubara untuk pemanasan besi.
 Revolusi industri di Inggris pada pertengahan abad ke-18 telah menempatkan batubara sebagai sumber energi utama. Memasuki abad ke-20, peran batubara mengalami pasang surut, namun tetap memegang peranan penting sebagai bahan bakar, lebih-lebih setelah persediaan minyak turun dan harganya naik. Sejak sekitar dua abad yang lampau batubara mulai memegang peranan sebagai sumber energi utama dalam kehidupan umat manusia. Kini batubara merupakan salah satu sumber energi yang sangat penting, terutama dalam kaitannya dengan mesin uap untuk membangkitkan tenaga listrik.
 Permintaan bahan bakar yang berasal dari fosil (batubara, minyak bumi dan gas alam) terus menunjukkan peningkatan setiap 20 tahun sejak 1900. Permintaan bahan bakar itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk. Sebagai contoh adalah kasus di Amerika Serikat (AS). Antara tahun 1960 dan 1980, jumlah populasi di AS meningkat hingga 25%, namun permintaan energi total naik sampai 80 %, yang berarti lebih dari tiga kali kenaikan jumlah penduduk. Gejala yang sama juga terlihat di negara-negara industri lainnya. 
 Peningkatan permintaan energi berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi. Sebagai buktinya adalah meningkatnya permintaan energi untuk transportasi. Kendaraan bermotor di AS pada tahun 1970 menghabiskan kira-kira 91 milyar galon bahan bakar, meningkat menjadi kira-kira 115 milyar galon pada tahun 1980. Para ahli meramalkan bahwa bahan bakar fosil ini akan mensuplai lebih dari 75 % kebutuhan energi dunia menjelang tahun 2000. Batubara menempati posisi cadangan mineral terbanyak di dunia. Saat ini batubara menyediakan sekitar 30 % energi dunia, 22 % dari jumlah itu dikonsumsi di AS. 
 Pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan peradaban umat manusia yang diiringi dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil telah memunculkan masalah krisis ekologi besar berupa pencemaran lingkungan skala dunia. Dalam batubara terdapat belerang atau sulfur (S) yang apabila dibakar berubah menjadi oksida sulfur. Masalah utama berkaitan dengan peningkatan penggunaan bahan bakar fosil adalah dilepaskannya gas-gas polutan penyebab hujan asam, seperti carbon dioksida (CO2), oksida nitrogen (NO2) dan oksida sulfur (SO2).
 Masalah hujan asam mulai terasa sejak awal tahun 1950-an. Masalahnya menjadi bertambah parah karena jumlah total SO2 yang terlepas ke udara terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah permintaan energi listrik. Sebagai akibatnya adalah terjadi peningkatan secara cepat derajad keasaman hujan sejak tahun 1960-an. Keadaan ini telah menimpa AS bagian timur laut serta beberapa bagian Kanada sebelah timur, Norwegia bagian selatan dan Swedia. Di daerah-daerah tersebut, sungai dan danau telah menjadi terlalu asam bagi ikan dan kehidupan lainnya. Hujan asam dapat menarik keluar logam beracun seperti merkuri dari sedimen sehingga masuk ke dalam air dan membahayakan kehidupan. 
 Hujan asam juga dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman yang berakibat lebih lanjut pada kerusakan hutan dan pengikisan lapisan tanah yang subur. Hal ini merupakan awal terjadinya ketandusan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung alam terhadap kelangsungan hidup manusia. Kerusakan hutan-hutan di Jerman misalnya, disebabkan oleh banyaknya industri peleburan besi dan baja yang melibatkan pemaikan batubara dan minyak bumi di negeri itu. Konsentrasi SO2 sebesar 0,5 ppm sudah dapat merusakkan tanaman. 
4. 5 Penyebab Hujan Asam
 Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang.
 Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan tanaman. Usaha untuk mengatasi hal ini saat ini sedang gencar dilaksanakan.
 Bukti terjadinya peningkatan hujan asam diperoleh dari analisa es kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak dimulainya Revolusi Industri dari 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain diperoleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam. Setelah bertahun-tahun, organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing lapisan tersebut.
 Dilihat dari sumbernya, SO2 sebanyak 2,4 % berasal dari pembakaran bahan bakar minyak untuk transportasi, sebanyak 73,5 % berasal dari pembakaran stationer bahan bakar fosil di pusat pembangkit listrik, dan sebanyak 22 % dari pembakaran batubara dalam proses industri. Gas oksida sulfur terdiri atas gas SO2 dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO3 berasal dari SO2 yang bereaksi dengan oksigen di udara. Antara 1-5 % SO2 teroksidasi langsung menjadi SO3. Kedua gas tersebut bereaksi dengan uap air yang ada di udara sehingga membentuk H2SO3 (asam sulfit) dan H2SO4 (asam sulfat). Apabila asam tersebut terkondensasi di udara dan kemudian jatuh bersama-sama air hujan, maka terjadinya hujan asam tidak dapat dihindari lagi. Melalui proses ini, pelepasan SO2 dari pembakaran batubara dapat menimbulkan hujan asam di daerah sejauh beratus-ratus km.
 Hujan asam adalah suatu masalah lingkungan yang serius yang benar-benar difikirkan oleh manusia. Ini merupakan masalah umum yang secara berangsur-angsur mempengaruhi kehidupan manusia. Istilah Hujan asam pertama kali diperkenalkan oleh Angus Smith ketika ia menulis tentang polisi industri di Inggris.
 Hujan secara alami bersifat asam karena Karbon Dioksida (CO2) di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah. Jenis asam dalam hujan ini sangat bermanfaat karena membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan binatang. Baru-baru ini diteliti bahwa peningkatan peningkatan keasaman yang ada dalam air hujan dalam beberapa dekade ini karena ulah manusia. Hujan asam menyerang margasatwa, hasi panen dan air danau. Hal ini menyebabkan kerusakan hutan dan kerusakan gedung serta monumen-monumen. Ini amat berbahaya bagi kelanjutan hidup manusia.
Hujan asam ini disebabkan oleh polusi. Penyebab polusi (polutan) seperti Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida tinggal dalam atmosfir dan akhirnya bereaksi dengan kelembaban dalam udara. Ketika polusi ini jatuh sebagai embun di tanah, inilah yang disebut dengan hujan asam. Sumber dari penyebab polusi ini tidak hanya berasal dari pembakaran sampah, tetapi juga berasal dari pembakaran motor dan pembuangan pabrik kimia.
 Sulfur Dioksida tidak seperti zat asam polusi yang lainnya karena zat tersebut tidak bereaksi dengan kelembaban sampai zat itu diterpa angin. Bahkan yang paling buruk hujan dan salju itu bukan salah satu cara yang bisa merusak lingkungan akan tetapi lingkungan itu bisa rusak karena polusi udara. 
 Kekeringan yang disebabkan oleh sulfur dioksida juga memiliki efek pada lingkungan.
Meskipun tempat-tempat seperti Adirondacks di New York telah mengalami kerusakan yang serius karena kapur dalam tanahnya sangat mudah dilarutkan oleh hujan asam, telah dilakukan langkah untuk mengontrol keadaan tersebut. Dan ketika Amerika dan Canada mulai mengurangi jumlah sulfur dioksida yang diikeluarkan kedalam udara, danau-danau dan kolam-kolam di daerah kanada menunjukan beberapa kemajuan.
4.6 Upaya Mengurangi Dampak Pemanasan Global dan Hujan Asam
Kunci utama dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global adalah:
 1.membatasi emisi CO2 dan
 2.menyembunyikan karbon yang juga membantu mencegah karbon dioksida memasuki atmosfer atau mengambil CO2 yang ada.
 Upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global yaitu sebagai berikut :
 a) Membatasi emisi CO2
  Tehnik yang efektif untuk membatasi emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat mungkin.
  Energi alternatif yang dapat digunakan diantaranya angin, sinar matahari, energi nuklir, dan panas bumi. Kincir angin dapt merubah energi angin menjadi energi listrik. Sinar matahari juga dapat dirubah menjadi energi listrik atau sumber panas yang bisa dimanfaatkan seperti pemanas air, kompor matahari, dll. Energi panas bumi bisa dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik. Sumber energi alternatif memang lebih mahal dibanding energi minyak namun penelitian lebih lanjut akan membantu untuk lebih menekan biaya.
 b) Penggunaan minyak bumi secara efisien
  Emisi CO2 dapat dikurangi jika mobil-mobil bisa lebih hemat bahan bakar. Para ilmuwan dan insinyur telah bekerja untuk menciptakan mesin yang hemat bahan bakar. Penemuan-penemuan telah mengembangkan alat untuk menggantikan mesin pembakaran atau menggunakan mesin yang lebih kecil. Sebuah mobil dengan tenaga batery listrik telah memasuki pasar, tetapi masih dilengkapi dengan mesin kecil berbahan bakar minyak. Bahan bakar sel yakni sebuah alat yang mampu merubah energi kimia menjadi energi listrik bisa dikembangkan untuk mobil-mobil di masa depan.
 c) Menyembunyikan karbon dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Di bawah tanah atau penyimpanan air tanah 
2. Penyimpanan di dalam tumbuhan hidup. 
  Bawah tanah atau air bawah tanah bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2 ke dalam lapisan bumi atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan adalah penyimpanan alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan memompakan CO2 kedalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan membantu mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini bisa menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam juga bisa menyembunyikan karbon dioksida.
  Lautan juga dapat menyimpan banyak karbon dioksida, tetapi para ilmuwan belum dapat menetapkan pengaruhnya terhapad lingkungan hidup di dalam laut.
 d) Penyimpanan di dalam tanaman hidup
  Tumbuhan hijau menyerap CO2 dari udara untuk tumbuh. Kombinasi karbon dari CO2 dengan hidrogen diperlukan untuk membentuk gula sederhana yang disimpan di dalam jaringan. Setelah tanaman mati maka tubuhnya akan terurai dan melepaskan CO2. Ekosistem dengan tumbuh-tumbuhan yang berlimpah seperti hutan atau perkebunan dapat menahan lebih banyak karbon, tetapi generasi manusia yang akan datang harus tetap menjaga ekosistem agar tetap utuh, jika tidak maka karbon yang disimpan dalam tanaman akan lepas kembali ke atmosfer.  
 e) Pengendalian pemanasan global
 Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
  Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
  Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
 f) Menghilangkan karbon
  Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
  Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
  Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.
 g) Pembuatan taman kota dan penanaman penghijauan
  Di Indonesia telah dilakukan pembuatan taman kota dan penanaman penghijauan guna untuk mengurangi kadar karbon dioksida di udara, sehingga dapat mengurangi pemanasan global. Selain itu taman dibangunnya taman kota juga dapat mempircantik kota itu sendiri.
  Tips untuk mengurangi polusi :
1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling). 
2. Selalu merawat mobil dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara. 
3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi. 
4. Mematuhi batas kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin lebih efektif. 
5. Meminimalkan penggunaan bahan kimia. 
6. Membeli bensin yang bebas timbal (unleaded fuel). 
7. Memilih produk yang ramah lingkungan. Misalnya parfum non-CFC. 
8. Memakai plastik berulang kali. Sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat beracun. 
9. Tidak merokok. 
10. Memilah antara sampah basah dan sampah kering dan menyediakan tempat untuk keduanya. 
11. Memfotokopi secara bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong. Menghemat kertas berarti mengurangi penggundulan hutan. Bumi yang hijau dapat menyerap polusi lingkungan lebih baik. 
12. Menggunakan lampu dengan kapasitas yang tepat. 
13. Bila kita menggunakan kamar kecil, jangan lupa mematikan air setelah kita pakai. Ingat, semakin banyak air terbuang percuma berarti kita turut memboroskan sumber daya alam. 
14. Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli. 
15. Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol. 
16. Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut. 
17. Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam. 
18. Sebisa mungkin menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan menambah jumlah sampah. 
19. Membiasakan menggosok gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan keran terus-menerus. Jangan sia-siakan air bersih. 
20. Sebisa mungkin menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari kertas. 
21. Mengurangi belanja yang tidak perlu agar tidak menimbulkan sampah di kemudian hari. 






















 
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
 Dua puluh lima tahun yang lalu orang akan tertawa jika mendengar usulan untuk mengurangi pencemaran udara dengan cara mengatur mesin cuci atau bola lampu. Tetapi ledakan pertumbuhan penduduk dan pencemaran tidak memberikan banyak pilihan pada pemerintah, terutama pemerintah kota. Akibat yang terjadi adalah ledakan teknologi baru: mobil, pabrik pembangkit tenaga, cat dengan pencemaran udara nol atau hampir nol, dan bola lampu, mesin cuci, serta alat pemotong rumput yang juga hampir tidak menimbulkan pencemaran udara. Sejumlah teknologi lingkungan mutakhir kini menjadi semakin lazim sehingga kita hampir tidak menganggapnya sebagai teknologi baru lagi. Kapan semua itu akan berakhir tidak dapat diramalkan. Sesungguhnyalah, revolusi industri baru ini mungkin, seperti pencemaran udara dan hal-hal yang menimbulkannya, akan berhenti hanya bila industri itu sendiri berhenti. Dan itu mungkin tidak akan pernah terjadi. 
 Dengan adanya fenomena pemanasan global ini, kehidupan masyarakat dunia akan terganggu. Apalagi dengan berkembangnya teknologi-teknologi yang memicu penggunaan bahan bakar fosil yang dapat menambah kadar zat yang dapat meningkatkan suhu rata-rata permukaan. Karena pembakaran fosil makhluk hidup dapat menghasilakan zat-zat yang dapat memicu pemanasan global.
5.2 Saran
 Dengan terselesainya penulisan karya ilmiah ini, penulis sangat berharap agar pembaca serta masyarakat dunia berusaha untuk meminimalkan perbuatan yang dapat menyebabkan pemanasan global. Pemansan global sangat mengerikan, karena jika semua warga dunia tidak berusaha berusaha untuk meminimalkan perbuatan itu niscaya pemansan global akan dapat diminimalisasikan. Akibat pemanasan global permukaan laut naik 0,8 cm per tahun dan berdampak pada tenggelamnya pulau-pulau kecil hampir satu meter dalam 15 tahun ke depan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan perubahan tingkah laku warga dunia yang kebiasaannya berpolusi sehingga dapat menurunkan persentase pemansan global.












DAFTAR PUSTAKA
A Look Ahead: Year 2020: Proceedings of the Conference on Long-Range Trends for the Nation's Highway and Public Transit Systems. Washington, D.C.: Transportation Research Board, 1988. 
Anderson, Evert. "Trains of Tomorrow," presented at Global Survival: Sustainable Development in the Networking World. Stockholm: Swedish Royal Institute of Technology, August 9-10, 1993. 
Bates, D. V. and R. Sizto. "A Study of Hospital Admissions and Air Pollutants in Southern Ontario," Aerosols. S.D. Lee, et. al., eds. Chelsea: Lewis Publishers, 1986. 
Blodgett, John. Health Benefits of Air Pollution Control: A Discussion. Washington, D.C.: Congressional Research Service, Library of Congress, February 27, 1989. 
Cogan, Douglas. The Greenhouse Gambit: Industry Response to Climate Change. Washington, D.C.: Investor Responsibility Research Center, Inc., 1991. 
Congress of the United States. Office of Technology Assessment. Acid Rain and Transported Air Pollutants: Implications for Public Policy. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, 1985. 
Congress of the United States. Office of Technology Assessment. Catching Our Breath: Next Steps for Reducing Urban Ozone. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, July 1989. 
Economic Commission for Europe. National Strategies and Policies for Air Pollution Abatement. New York: United Nations, 1987. 
Enquete Commission of the German Bundestag. Protecting the Earth's Atmosphere, ed. & transl. into English by Wolfgang Fehlberg and Monica Ulloa-Fehlberg. - Bonn: Economica Verl.; Karlsruhe: Miiller, 1992; Dt. Ausg. u.d.T.: Klimaanderung gefahrdet globale Entwicklung. Economica Verl. 
Environmental Economics Associates. "The Environmental Industry in the United States." Washington, D.C.: U.S. Environmental Protection Agency, January 1991. 
Environmental Protection in the Industrial Sector in Japan. Tokyo: Industrial Pollution Control Association of Japan, 1983. 
Japan's Industries Work for Conservation of Global Environment. Tokyo: Keidanren, 1992. 
Moore, Curtis and Alan S. Miller. Green Gold: Japan, Germany, the United States and the Race for Environmental Technology. Boston: Beacon Press, 1994. 
Sand, Peter. "Air Pollution In Europe: International Policy Responses," Environment (v. 29, no. 10). December 1987. 
Schneider, Tonny, et al., eds. Atmospheric Ozone Research and Its Policy Implications: Proceedings of the 3d U.S.-Dutch International Symposium. New York: Elsevier, 1989. 
The Economist. "Singapore's Green Crusade - Cleaning the Neighbours," February 1, 1992. 
Weidner, Heimut. Air Pollution Control Strategies and Policies in the Federal Republic of Germany: Laws, Regulations, Implementation and Principal Shortcomings. Berlin: 95 Edition Sigma Bohn, 1986. 
Wetstone, Gregory S. and Armin Rosencranz. Acid Rain in Europe and North America: National Responses to an International Problem. Washington,D.C.: Environmental Law Institute, 1983. 
World Resources Institute. Car Trouble: How New Technology, Clean Fuels and Creative Thinking Can Revive the Auto Industry and Save Our Cities from Smog and Gridlock. Boston: Beacon Press, 1993. 
World Resources Institute. World Resources 1992-93. New York: Oxford Union Press, 1992-93. New York: Oxford Union Press, 1992.

Senin, 01 September 2008

HARVEST MOON GAME BOY ADVENCE

Game ini sangat diminati oleh remaja-remaja yang suka dengan game petualangan. Dalam game ini terdapat banyak manfaatnya misalnya game HARVEST MOON versi bahasa Inggris. Dalam game ini tidak seenaknya main pilih kata-kata, jika salah pilih maka karakternya dala game ini biasanya marah atau sedih. Ya kalo dipikir-pikir bermain sambil balajar bahasa Inggis lah !
Tokoh utama dalam game ini ada yang cowok juga ada yang cewek. Itu tergantung dari versi masing-masing game. Game ini seru banget !!! kamu harus bisa bertaktik supaya dapat keuntungan bersar. Miasalnya memperkirakan berapa lama tanaman yang ditanam, harga jual per buah dan akhir pergantian musim. Coz kalo nggak perhatikan itu bisa-bisa kamu rugi gede???
Tenang aza !!! Ni tak beri tips supaya kamu lebih mudah. Aku yakin kamu pasti ketagihan main game ini coz game ini seru banget !!!!


Hint : Merawat hewan

Lakukan hal ini untuk meningkatkan hati hewan peliharaanmu :
• Ayam - pelihara, beri makan, angkat ayam terus lemparkan
• Sapi - pelihara, ditanya, disikat pake brush, dipera susunya, beri makan
• Kambing - pelihara, ditanya, disikat pake brush, digunting bulunya, beri makan
• Kuda - pelihara, ditanya, disikat pake brush

NOTE : setiap waktu hewan peliharaanmu harus dikeluarkan dari kandangnya, kalo ayam supaya bisa makan cacing yang ada di luar N kalo sapi, kambing dan kuda supaya bisa makan rumput yang alami. Tapi ingat jangan sampai terlalu malam memasukkan kembali hewan peliharaanmu coz sekitar jam 9 malam jika hewan peliharaanmu gak dimasukkan dalam kandang akan datang hewan liar yang bisa mengganggu hewan peliharaanmu dan dapat membuat peliaharaanmu sakit atau hati / heart - nya menurun.

Hint : karakter suka, tidak suka dan ulang tahunnya

Rick (Fall 22)
suka: Spa-boiled eggs, Wine, Bodigizer
benci: Sweet Potatoes
Barley (Spring 17)
suka: Spa-boiled eggs, Rice Balls
benci: Wine, Cheese
Saibara (Spring 11)
suka: Any ore (except junk ore), Bamboo Shoots
benci: roti
Jeff (Winter 29)
suka: Apples, Bamboo Shoots, Flowers
benci: Wine, Batu
Duke (Winter 15)
suka: Wine
benci: Curry, Batu
Gray (Winter 6)
Likes Batu (like Saibara)
benci: Green Peppers
Doctor (Fall 17)
Likes: Spa-boiled eggs, Wine
Hates: Batu
Pastor Carter (Fall 20)
suka: semua hasil panen, Wine
benci: rerumputan
Basil (Summer 11)
suka: Flowers, Mushrooms
benci: Batu, Fish
Won (Winter 19)
suka: Fish
benci: belum diketahui
Gotz (Fall 2)
suka: Oil, lumber
benci: belum diketahui
Greg (Spring 29)
suka: Big fish
benci: Oil
Kai (Summer 22)
suka: Bread, Flour
benci: Bamboo Shoots
Doug (Winter 11)
suka: Wine, Bamboo Shoots
benci: Batu
Cliff (Spring 6)
suka: Spa-boiled eggs
benci: Batu, Bodigizer
Zack (Summer 29)
suka: Big Fish
Hates: Flour
Louis (Spring 2)
suka: Honey
benci: Oil, Flour
Thomas (Summer 25)
suka: Wine, Spa-boiled eggs
benci: Batu

Hint : membuat ahti orang yang kamu sukai menjadi cepat merah

Beri dia segala sesuatu yang dia sukai setiap hari.
Tingkatan-tingkatan hati
1. hati warna abu-abu
2. hati warna pink
3. hati warna biru
4. hati warna hijau
5. hati warna kuning
6. hati wanra orange ( kamu dapat langlung membeli Blue Feather di supermarket)
7. hati warna merah tua (kamu dapat langsung menikah dengannya)

Hint : bagaimana membuat hati Elli cepat menjadi merah tua

Beri dia semua bunga : toy flower (Spring) ada di mother hill, pink cat (summer) ada di mother hill-hot spring, megic flower (Fall) ada di hot spring-mother hill. Usahakan di ladangmu juga menamam bunga-bunga ini sesuai musimnya. Usahakan juga di rumahmu ada cabinet / lemari yang bisa kamu dapatkan di tv shooping. Tapi saratnya rumahmu harus upgrade I. Kamu bisa upgrade rumahmu di Gotz yang biayanya 5,000G dan 470 buah lumber. Kamu bisa simpan bunga-bunga dalam kabinet jika sewaktu-waktu kamu butuhkan dan juga buat persiapan bunga saat musim Winter. Beri dia bunga setiap hari. Jika kamu ingin lebih cepat setiap hari kamu harus membawa bunga lebih dari 2 buah.
Ini dah aku coba perubahan hati dari abu-abu, pink, biru, hijau dan kuning hanya selama 2 musim yaitu Spring dan Summer saja. Semoga ini dapat membantu.
 
Copyright 2009 MITRA. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemesfree